Thursday, March 26, 2009

Cloud Computing? Apakah Menjadi Sebuah Solusi Dunia Bisnis di Indonesia

Assalammu’alaikum wr. wb.

Hari ini Teknologi Informasi benar-benar telah menjadi tulang punggung bisnis dan bukan merupakan sesuatu yang nice to have (baca: life style) tetapi sudah menjadi business enabler (baca: memungkinkan sebuah bisnis bisa berjalan dan bertumbuh). Tanpa TI, bisnis tidak akan bisa berkembang, inovasi juga akan mandek, konsumen yang menginginkan perbaikan kualitas maupun terobosan menjadi kesal karena bisnis tidak memberikan solusi yang diinginkan, yaitu layanan inovatif, prima dan terjangkau serta kaya dengan fitur.

Para pengguna juga dapat mengakses sumber daya aplikasi tersebut di mana saja dia berada dan tidak perlu harus duduk dikantor asalkan dia memiliki web browser, yang terinstal misalnya di mobile phone . Contoh cloud computing dalam kehidupan kita sehari-hari seperti aplikasi social networking: facebook, aplikasi peer-to-peer: skype, bittorent, SaaS: Google apps.

Saya sempat berbicara dengan salah satu teman saya mengenai bisnisnya. Dia termasuk dalam kategori bisnis UMKM dan dia ingin sekali agar bisnisnya tersebut bisa maju. Namun karena masih belum memiliki solusi TI yang sesuai maka dari sisi operasional sehari-hari saja sudah kelabakan, bagaimana bisa memikirkan bisnisnya dapat berkembang?

Solusi Information Technology tidaklah harus mahal dan rumit, walaupun bisnis model saat ini adalah ketika kita berbicara mengenai salah satu solusi berbasiskan aplikasi, biasanya user terikat dengan berbagai kontrak semacam End User License Agreement, Software maintenance, ongoing operations, patches, dan lain sebagainya.

Bisnis menginginkan on-demand license yang fleksibel dan terjangkau, daripada TI menjadi fixed cost lebih baik menjadi variable cost (pay as you really grow) dan bisa diminimalisasi terhadap lisensi yang memang dibutuhkan, serta ketika bisnis berkembang dia bisa menambah license yang dibutuhkan atau bahkan ketika aplikasi tidak relevan maka bisa saja kontrak diterminasi sewaktu-waktu

Dari sisi provider (baca: applications service hosting/provider) mereka juga terbantu dari sisi kontrol, pemakaian atau utilisasi melalui multi tenancy, dan distribusi lisensi software, bahkan mereka dapat melakukan deployment software di banyak organisasi tanpa harus melakukan pre-install fisik di organisasi tersebut.

Model di atas sering disebut sebagai SaaS (Software as a Service) atau per-use service-based-model yang merupakan bagian dari Cloud Computing. Namun, solusi cloud computing tidak terbatas pada aplikasi tertentu, bisa saja untuk aplikasi umum seperti corporate email, dimana user tidak lagi harus melakukan investasi infrastruktur email corporate (server, hard disk) dan lisensi secara fisik.

Memang solusi untuk email corporate ini membutuhkan sistem keamanan yang terjamin, dan data confidential tidak bocor kepada pihak-pihak yang tidak memiliki hak. Namun solusi ini memiliki kekuatannya kekuatannya apalagi sekarang ini konsumer sudah memiliki device-device seperti telepon selular (iphone, android, windows mobile) yang mampu memfasilitasi teknologi ini.

Performa bisnis di dalam korporasi akan menjadi lebih baik dengan aplikasi yang berjalan di cloud, karena mereka tidak lagi memikirkan risiko-risiko seperti return on investment sehingga ROA (baca: return on asset) juga lebih baik, tidak perlu lagi investasi sumber daya manusia yang spesifik, dan dengan mudah membuat kontrak di atas kesepatan akan service level agreement, sehingga mendapatkan layanan ketersediaan dan kehandalan sistem yang terjamin, alhasil bisnis intinya bisa berjalan dengan lebih baik karena biaya TI bisa ditekan menjadi jauh lebih efisien.

Konsep Green Computing sudah menjadi bagian dari cloud computing karena sistem menjadi lebih efisien dan seperti yang sudah diketahui yaitu pemakaian komputer dan infrastruktur pendukungnya memakan sumber daya energi listrik yang sangat besar. Para pengguna juga dapat mengakses sumber daya aplikasi tersebut di mana saja dia berada dan tidak perlu harus duduk dikantor asalkan dia memiliki web browser, yang terinstal misalnya di mobile phone . Contoh cloud computing dalam kehidupan kita sehari-hari seperti aplikasi social networking: facebook, aplikasi peer-to-peer: skype, bittorent, SaaS: Google apps.

Wallahu ‘alam bi showab

Saturday, February 14, 2009

A Tale of A Contact Center and A Police Station

Seorang nasabah terkaget-kaget ketika melihat tagihan kartu kreditnya yang dia dapat dari sebuah bank membengkak apa yang akan dia lakukan?

Ada juga seorang nasabah yang kehilangan dompetnya ketika dia sedang enak-enak berbelanja, di tengah kepanikan di benak dia siapa yang menjadi andalan untuk mengeluhkan masalah ini?

Atau ketika seorang nasabah sedang mengambil uang di ATM di mal, entah kenapa kartu ATM tersebut tertelan atau seret tidak mau keluar dari mesin ATM, kira-kira dalam kondisi seperti ini siapa yang akan dia call?

Bisa jadi nasabah tersebut pergi ke kantor sekuriti mal atau kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut, paling-paling si satpam atau polisi mencatat laporan kehilangan, bahkan di kantor polisi kita bayar uang laporan dan tidak ada tindak lanjut.

Atau dia menelpon call center bank tersebut untuk melaporkan kehilangan sehingga kartu yang hilang tidak disalahgunakan dan nasabah hanya mengalami kerugian yang minimal karena tidak kehilangan secara finansial.

Bahkan ketika ada transaksi yang tidak normal pada kartu kredit nasabah, nasabah tersebut mendapatkan telepon dari seorang agen menanyakan,”Selamat pagi Bapak fulan, apakah bapak melakukan transaksi sebesar sekian-sekian di toko fulan.” Dan nasabah tersebut mengiyakan, sehingga ketika dia menerima laporan bulanan, nasabah tersebut tidak terkaget-kaget atas transaksi besar yang dilakukan sepengetahuan dia maupun tidak dalam sepengetahuan dia.

kelebihan dari call center adalah interaksi dengan orang dalam hal ini agen-agen menggantikan peran staf cabang, dan yang paling penting adalah ketika nasabah ingin menyampaikan keluhan terhadap produk-produk atau program-program atau ingin melakukan blocking kartu dapat secara cepat dilayani.

Hari ini ketika krisis global melanda dunia terutamanya dunia keuangan maka kebanyakan lembaga keuangan seperti perbankan sangat bergantung pada kepercayaan nasabahnya dalam menjaga agar bisnisnya tetap langgeng. Layanan konvensional misalnya melalui keramahan staf di cabang, tidaklah cukup memberikan kepuasan dan ketenangan kepada nasabah di era globalisasi seperti sekarang ini. Nasabah membutuhkan kecepatan, keamanan, dan kenyamanan lebih dari pada masa-masa sebelumnya. Sepertinya kombinasi antara orang, bisnis proses dan teknologi harus dilakukan demi memberikan layanan seperti ini, yaitu layanan yang prima yang elegan sekaligus dari sisi bisnis dapat mengurangi biaya per transaksi layanan ke nasabah tanpa mengurangi kualitasnya.

Hari ini call center di Indonesia seperti sudah menjadi seorang asisten kepada nasabah, atau kalo di hotel-hotel international bintang V telah menjadi seorang butler (pelayan pribadi) yang siap melayani berbagai macam kebutuhan nasabah dalam bentuk apapun seperti layanan inquiry saldo (tanya saldo) pada sebuah rekening atau lebih nasabah, membeli voucher telepon selular, bersedekah, mencetak rekening tabungan atau koran, membayar berbagai macam tagihan rutin seperti PLN, listrik dan air bahkan asuransi, atau investasi seperti membuka akun deposito.

Alternatif solusi seperti ini menjadi alternatif kepada nasabah yang sangat sibuk dan tidak sempat pergi ke cabang. Memang call center bukan satu-satunya pilihan, masih ada internet banking, dan sms/mobile banking, namun kelebihan dari call center adalah interaksi dengan orang dalam hal ini agen-agen menggantikan peran staf cabang, dan yang paling penting adalah ketika nasabah ingin menyampaikan keluhan terhadap produk-produk atau program-program atau ingin melakukan blocking kartu dapat secara cepat dilayani.

Yang masih sering terjadi adalah nasabah memberikan nomor pin yang seharusnya rahasia kepada agen call center, karena dikira dengan memberikan pin, proses layanan akan lebih cepat, atau terkadang dalam suasana panik info apapun akan diberikan kepada agen call center, padahal hal ini sangat berbahaya apalagi masih sering terjadi nasabah dijebak melalui nomor call center fiktif.

Hal ini bisa diantisipasi dengan nomor cantik call center seperti 14000,14001,14045 yang mudah diingat dan bisa dihubungi dari mana saja di seluruh penjuru nusantara tanpa kuatir harus membayar tarif SLJJ walaupun nasabah masih membayar harus membayar pulsa lokal namun dengan persaingan industri telekomunikasi seperti sekarang ini, pulsa lokal menjadi tidak ada artinya bahkan bisa gratis dengan program-program yang ada.

Call center sangat aman, karena untuk melakukan transaksi seperti pindah buku (over booking) hanya bisa dilakukan pada rekening sesama bank yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di cabang dan tidak bisa ke sembarang rekening. Begitu juga ketika kita ingin meminta bukti transaksi, ada fasilitas fax yang akan melakukan fax pada nomor telepon yang sudah didaftarkan atau email/sms bagi para professional yang nyaman dengan bukti transaksi seperti ini.

Teknologi paling efisien saat ini yang memungkinkan adanya interaksi multimedia seperti suara, gambar, video, sms, mms, maupun e-mail adalah melalui teknologi yang berbasis Internet Protocol (IP) di mana aplikasi layanan mesin (baca: phone banking) akan lebih interaktif dan dapat diakses melalui berbagai media seperti teknolgi broadband, 3G dan teknologi internet lainnya. Di sini nasabah tidak lagi harus memencet tuts telepon, tapi bisa melihat menu secara visual di telepon genggam, sambil menunggu disambungkan ke live agent, iklan-iklan produk dan program baru dapat ditayangkan, bisa dalam bentuk film, atau informasi seperti melihat layar TV kecil.

Barangkali teknologi ini terutama di dunia perbankan di Indonesia baru diadopsi oleh bank di mana saya bekerja saja, itupun juga baru fondasinya, belum ke fitur-fitur canggih yang sudah saya sebutkan di atas. Karena teknologi ini belum begitu popular di Indonesia, walaupun di eropa sudah diadopsi dalam waktu yang cukup lama. Namun tuntutan nasabah akan layanan yang prima membuat lembaga keuangan seperti perbankan memberikan layanan nilai lebih.

Tiap tahun ada lembaga survey independen yang memberikan penilaian terhadap layanan perbankan mulai dari layanan cabang terdiri dari banyak hal seperti kebersihan, pelayanan, kecepatan, cross selling dan lain-lain, hingga layanan electronic channel (baca: e-channel) seperti internet banking, sms banking, call center hingga phone banking (layanan mesin IVR). Salah satunya adalah Marketing Research Institute (disingkat MRI) dan lembaga ini dianggap salah satu lembaga independen yang paling kredibel dan selalu menjadi acuan pelaku industri seperti perbankan.

Bank di mana saya bekerja di tahun 2007 sudah mendapatkan rangking teratas walaupun sebenarnya semua ini digunakan oleh dunia perbankan untuk menggaet kepercayaan nasabah dan sebagai pembanding antara satu bank dengan lainnya dalam memberikan layanan.

waalahu'alam bishowab
ghifi.wordpress.com

Friday, December 19, 2008

Solo Kotaku Di Masa Kini..Kotaku Di Masa Lalu

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Tak terasa akhir tahun 2008 sudah di depan mata, waktu begitu cepat berlalu, dan akhirnya kami sekeluarga punya kesempatan untuk bisa mudik (orang udik memang seharusnya mudik) kembali ke kota tempat kami dilahirkan.

Putri solo sejati yang menghabiskan seluruh masa batita, balita, remaja & menjelang dewasa di luar tembok keagungan keraton, tidak pernah beranjak dari zona kejawaannya, 25 tahun lamanya mengabdikan dirinya menjadi saksi hidup kota ini dari masa ke masa. Sedangkan "mas-mas" yang sejak kecil hingga lulus SMA (sekarang SMU) tinggal dan dibesarkan di karesidenan ini, kalau dihitung sudah 18 tahun, sebelum meninggalkannya untuk mencari ilmu dan pengalaman hidupnya di belahan dunia yg lain.

Kota Solo dikenal dengan kuliner tradisional yang "Mak Nyos", sangat terkenal dengan nasi liwetnya, soto, daging kambing, gudeg ceker, gudeg, nasi timlo, bistik jawa, serabi, bakmi kethoprak dan lain-lain. Semua wisatawan akan melakukan dua hal di Solo, menikmati makanan khas Solo dan belanja Batik, dengan aneka warna asesorisnya.

Di waktu-waktu sebelumnya, kami melihat kota Solo seperti kota yang sedang bangkit dari keterpurukannya bertahun-tahun. Keterpurukan itu mengalami puncaknya pada tahun 1998 ketika krisis moneter. Dimana saat itu Solo menjadi sasaran kemarahan manusia Indonesia dan banyak bangunan yang dirusak serta kondisi ekonomi yang sangat menurun.

Ketika berbincang dengan orang tua dan juga mertua, satu hal yang dapat menggambarkan budaya orang Solo yang dikenal santun dan lemah lembut, ternyata dibalik sikap kelemah-lembutan, ada satu karakter yang menjadi simbol dan tercermin pada keterpurukan Solo selama kurang lebih 10 tahun lebih, yaitu rasa "apatis" atau pesimis, seadanya saja yang penting saya untung peduli dengan si Anu.

Beberapa hal Solo saat ini sudah sedikit berubah, melihat Solo menjadi kota yang lebih teratur, sebelumnya banyak sekali kaki lima dimana-mana dan terlihat berantakan dan menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan kumuh. Namun hari ini kami melihat hal itu sudah mulai tidak terlihat, lingkungan terlebih lebih bersih dan lebih teratur, barangkali karena musim hujan ini juga turut membersihkan kotaku yang tercinta. Dimana-mana kudengar berita banjir seperti kota-kota di Jawa Timur, Kalimantan, bahkan Jawa Barat, Jawa Tengah, namun tidak dengan Solo, walaupun tahun lalu daerah suburb kota Solo juga terendam, tapi hari ini berita banjir tidak terdengar, walaupun sayup-sayu.

Dulu ketika melewati Proliman (baca: perlimaan) di dekat stasiun kereta Balapan lampu merah pengatur lalu-lintas selalu mati sehingga para pengemudi harus berhati-hati karena lalu-lintas tumpah ruah mulai dari becak, sepeda, sepeda motor, dan mobil berlomba-lomba melewati perlimaan tersebut. Namun kini kami sedikit terkejut ketika melewati jalur tersebut, karena lampu merah sudah beroperasi kembali, dan pengguna kendaraan terlihat teratur tidak ada yang mencoba untuk mendahului lampu merah yang ada pada perlimaan tersebut.

Satu hal temuan unik ketika melewati salah satu jalan protokol di Jalan Slamet Riyadi terlihat nama-nama Perbankan, Perkantoran, Cafe dan deretan toko-toko yang dihias dengan manis dibawahnya tulisan jawa, Ho-No-Co-Ro-Ko, mengingatkan kami pada pelajaran Boso Jowo waktu duduk di bangku SD. Seperti kita sedang berada di Mekah semua tulisan latin ada arab gundul dibawahnya ato seperti di Hong-Kong semua bahasa Inggris disana diartikan dengan huruf-huruf bahasa Cina dibawahnya yang kami bisa membacanyapun tidak.

Di setiap sudutnya terdapat wajah-wajah Javanese asli yang klasik dan tampan, berhidung mancung dan berasesoris seperti wayang. Itulah topeng-topeng dengan ukuran besar seperti menjadi simbol dan menghiasi hampir setiap sudut kosong jalanan kota yang dulu selalu mendapat penghargaan Adipura Kencana.

"Change" seperti Mr. Barack Husein Obama II selalu bilang pada orang-orang berbagai etnis di Amerika untuk keluar dari keterpurukan krisis yang melanda dunia, maka kota Solo juga telah merubah wajahnya. Seperti artis-artis yang telah dipermak dengan operasi plastik, Kota SOLO memang dipaksa untuk mau tidak mau harus mau berubah menjadi CANTIK.